KAMPAR KIRI – Pembangunan jembatan di wilayah terisolir Desa Sungai Santi kini menghadapi tantangan alam yang unik. Jika sebelumnya curah hujan tinggi menjadi hambatan, kali ini kondisi cuaca yang kering tanpa hujan justru mengakibatkan debit air sungai menyusut drastis hingga menjadi dangkal, Jum’at (01/05/2026).
Kondisi sungai yang mendangkal ini menjadi kendala serius bagi mobilitas logistik. Pasalnya, jalur air merupakan satu-satunya nadi transportasi utama untuk menyuplai material bangunan menuju lokasi proyek karena ketiadaan akses jalur darat.
Sampan Logistik Terhambat Kedangkalan air,Berdasarkan laporan dari lapangan, penurunan debit air menyebabkan sampan-sampan pengangkut material yang biasanya melintas dengan lancar, kini seringkali tersangkut atau tidak dapat membawa beban maksimal. Hal ini secara langsung menghambat ritme suplai bahan bangunan seperti semen, besi, dan komponen jembatan lainnya.
”Saat tidak ada hujan, sungai justru menjadi sangat dangkal. Ini menghambat pergerakan sampan logistik kami yang membawa kebutuhan material jembatan. Namun, kami tidak tinggal diam; personel di lapangan terus mencari cara agar distribusi tetap berjalan meski harus bekerja lebih keras,” ungkap perwakilan Satgas Kodim 0313/KPR di lokasi.
Menyikapi kondisi tersebut, personel TNI bersama masyarakat setempat terpaksa melakukan upaya ekstra, mulai dari mendorong sampan di titik-titik dangkal hingga melangsir material secara manual dengan jarak yang lebih jauh. Hal ini dilakukan demi memastikan pengerjaan jembatan tetap berjalan sesuai jadwal dan tidak terhenti akibat kendala distribusi.
Dandim 0313/KPR terus memantau perkembangan situasi ini dan menekankan pentingnya kreativitas serta ketangguhan personel dalam menghadapi dinamika alam di pedalaman. Jembatan Sungai Santi tetap menjadi prioritas utama untuk segera dituntaskan guna memerdekakan warga dari isolasi geografis.
















